Ilustrasi Daftar Akun dalam Persamaan Akuntansi

Ilustrasi Daftar Akun dalam Persamaan Akuntansi

Ilustrasi Daftar Akun dalam Persamaan Akuntansi

Pada era teknologi informasi mobile sekarang ini, sangat tidak masuk akal jika akuntansi masih dilakukan secara manual dan disebut sebagai ‘pembukuan’. Oleh karena itu, komputerisasi akuntansi merupakan sebuah konsekuensi logis dari perkembangan teknologi informasi. Karena akuntansi memiliki prinsip dasar matematika, maka akuntansi pasti dapat dikomputerisasikan. Berikut ini penjelasan mengenai dasar pemrograman basis data (database) untuk Sistem Informasi Akuntansi (SIA).

Kita ambil sebuah contoh. Sebuah entitas mendapat penerimaan kas yang asalnya dari jasa konsultasi akuntansi. Maka, dari transaksi ini dapat dibuat jurnal kas (Dr) pada pendapatan jasa (Cr) à untuk menunjukkan bahwa peningkatan aset (kas) asalnya dari pendapatan (pendapatan jasa). Dari penjurnalan transaksi ini, kita sebagai manusia dapat dengan mudah mengelompokkan kas ke dalam aset dan pendapatan jasa ke dalam pendapatan. Namun, komputer tidak dapat membaca apa yang membuat kas bisa menjadi bagian dari aset. Untuk dapat melakukan sesuatu, komputer harus diberi program yang terstruktur dan terpola, termasuk mengelompokkan akun-akun ke dalam elemen-elemennya. Disinilah peran dari daftar akun (chart of account).

Daftar akun merupakan sebuah daftar yang berisi akun-akun yang dimiliki oleh perusahaan. Jadi, segala transaksi yang terjadi dalam perusahaan, direpresentasikan dalam akun-akun yang ada di daftar ini. Tujuannya adalah agar pencatatan transaksi menjadi konsisten. Sebagai contoh, tanpa adanya daftar akun, seseorang dapat mencatat gedung dalam akun ‘gedung’ sedangkan orang lain mencatat dalam akun ‘bangunan’, atau seseorang mencatat penerimaan uang dalam akun ‘uang’ sedangkan orang lain mencatat dalam akun ‘kas’.

Dalam daftar akun, setiap akun memiliki kode akun. Kode akun ini memiliki pola yang dapat digunakan oleh komputer untuk mengelompokkan akun-akun dalam persamaan akuntansi. Lebih jelasnya lagi, dengan kode akun, komputer dapat melakukan automatisasi pelaporan keuangan.

Sebagai contoh, dalam tabel 1.3 dapat dilihat bahwa Aset memiliki kode 1*. Tanda asterisk (*) merupakan lambang dalam pemrograman basis data yang artinya dapat berisi karakter apapun. Jadi, kode 1* ini dibaca: kode depannya 1, belakangnya dapat diikuti digit berapapun. Jadi, semua akun yang memiliki kode digit depan 1, merupakan kelompok aset. Setelah itu, dapat dilihat dalam tabel 1.3 bahwa kas, piutang, perlengkapan kantor, persediaan memiliki kode digit kedua: 1 (sehingga kodenya adalah 11*), hal ini menunjukkan bahwa akun-akun ini masuk dalam kategori aset sub klasifikasi aset lancar. Selanjutnya, aset tetap, properti investasi, tanah, aset dimiliki untuk dijual, memiliki kode digit kedua: 3 (sehingga kodenya adalah 13*), hal ini menunjukkan bahwa akun-akun ini masuk dalam kategori aset sub klasifikasi aset tidak lancar. Contoh ini menunjukkan, jika terjadi transaksi seperti penerimaan kas yang asalnya dari jasa konsultasi akuntansi, manusia mencatat ke dalam komputer: kas (Dr) pada pendapatan jasa (Cr). Kemudian, dengan menggunakan query yang dibuat oleh manusia, komputer akan secara otomatis mengelompokkan kas yang berkode 1101 ke aset, dan pendapatan jasa yang berkode 4101 ke pendapatan. Jika hal ini sudah dilakukan, maka penyajian akun-akun ke dalam laporan keuangan sesuai dengan kelompoknya merupakan hal yang lebih mudah.

Dalam praktik, penomoran elemen dan akun dalam kode akun dapat bervariasi, tergantung kompleksitas bisnis dan macam-macam transaksi yang dimiliki oleh entitas. Semakin kompleks dan semakin banyak jenis transaksi, semakin banyak digit yang digunakan dalam kode akun. Secara normal, jumlah digit paling sedikit untuk kode akun adalah 3 digit. Digit pertama digunakan sebagai kode elemen dan dua digit selanjutnya adalah kode dari akun.

 

Dalam Standar Akuntansi Keuangan, Generally Accepted Accounting Principle (GAAP) diterjemahkan sebagai Prinsip Akuntansi Berlaku Umum.

Standar Akuntansi Keuangan menggunakan istilah biaya sebagai terjemahan dari cost. Secara konsep, cost adalah pengukur atas transaksi (pertukaran) dan menggunakan satuan moneter (Rp, $, ¥). Secara ilmiah, istilah untuk pengukur lebih baik untuk diserap jika tidak ada terjemahan yang sesuai. Hal ini juga akan lebih membantu dalam hal konsistensi penerjemahan. Seperti halnya gravity yang merupakan pengukur gaya tarik bumi dengan satuan g diserap menjadi gravitasi, maka menggunakan kaidah pembentukan istilah Bahasa Indonesia, cost diserap menjadi kos (analogi: credit-kredit, post-pos). Manfaat dari penerjemahan cost menjadi kos akan sangat terasa dalam pembahasan mengenai persediaan.

Persamaan akuntansi diciptakan oleh Frater Luca Bartolomeo de Pacioli, seorang biarawan dan ahli matematika dari Italia. Persamaan ini dituliskan dalam bukunya, Summa de Aritmatica,Geometrica, Proportioni et Proportionalita,  yang terbit pada tahun 1949. Dalam buku ini, Luca Pacioli sudah menyebutkan metode venetian atau pencatatan double entry, yang merupakan representasi dari persamaan akuntansi.

Istilah Beban (bahasa asing: Expense) dalam standar akuntansi sebetulnya tidak tepat. Secara logis, entitas harus melakukan upaya untuk mendapatkan hasil. Jika entitas tidak berupaya maka entitas tidak akan mendapatkan hasil. Oleh karena itu, upaya adalah suatu keharusan. Sebagai contoh, perusahaan ritel harus berupaya membeli barang dagangan. Jika perusahaan ritel tidak melakukan hal tersebut, maka perusahaan ritel tidak dapat melakukan usaha penjualan barang dagangan. Dalam Bahasa Indonesia, suatu upaya yang memang harus dilakukan tidak dapat disebut sebagai beban, karena beban memiliki konotasi negatif sebagai sesuatu yang memberatkan dan sedapat mungkin dihindari. Oleh karena itu, istilah beban tidak tepat untuk merepresentasi konsep expense. Bahasa Indonesia memiliki istilah yang lebih tepat untuk upaya yang memang harus dilakukan untuk mendapatkan hasil yaitu, biaya.

Sumber : https://jalantikus.app/